KEBIJAKAN ATAU KEPENTINGAN?

Kebijakan, sebuah kata yang begitu akrab dengan keseharian masyarakat, khususnya mereka yang sering bersentuhan dengan aktifitas birokrasi. Dalam salah satu versi pengertiannya, kebijakan bermakna kemahiran menggambil keputusan dengan menggunakan akal budi. Pengertian ini akan diuraikan satu per satu:

Pertama, kebijakan berhubungan dengan pengambilan keputusan, sehingga kebijakan adalah mainan sehari-hari para policy maker, pemimpin organisasi, instansi, pemerintahan, dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Kedua, Keterlibatan akal budi dalam membentuk sesuatu yang disebut kebijakan, menyebabkan makna kebijakan berkonotasi positif, baik, mulia, sehingga kebijakan akan sulit dikaitkan dengan makna-makna yang tidak terpuji, negatif, buruk.

Kebijakan dan Aturan

Kebijakan menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan aturan, paling tidak ada dua fungsi kebijakan bila di hubungkan dengan aturan, yaitu kebijakan sebagai pelaksanaan aturan dan kebijakan sebagai pelengkap aturan. Aturan (berupa UU, PP, Kepmen, Perda, SK, dll) pada pelaksanaannya seringkali tidak dapat diterapkan begitu saja, karena berbagai sebab baik secara administratif maupun alasan teknis. Dalam kondisi seperti inilah kebijakan atau lebih dikenal dengan istilah ‘petunjuk atasan’ dibutuhkan agar pada pelaksanaan aturan tersebut tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran. Tetapi dalam suatu kondisi tertentu, karena sifat aturan yang terlalu umum, menyebabkan ada hal-hal yang luput dari aturan, tetapi hal-hal tersebut bersifat krusial, pada saat itulah kebijakan akan menjadi pelengkap aturan tentu dengan satu paradigma dasar, yaitu kebijakan tidak boleh melanggar atau bertentang dengan aturan yang terkait langsung maupun terkait secara tidak langsung dengan kebijakan yang diambil.

Namun masalah kemudian timbul ketika istilah kebijakan disalahgunakan dalam praktek berorganisasi baik organisasi kemasyarakatan maupun organisasi pemerintah. Bukan lagi hal yang baru, jika tiba-tiba kita dikejutkan oleh sebuah kebijakan yang diambil oleh pimpinan kita terasa mengganjal bahkan jelas-jelas melanggar aturan, namun ketika ada keinginan sebagian pihak untuk mempertanyakan kebijakan tersebut, dengan tegas ‘barisan pengaman kebijakan’ melontarkan jawaban yang semakin menimbulkan sak wasangka: ;tidak usah mempertanyakan kebijakan, karena itu hak prerogatif pengambil kebijakan!

Pertanyaan kemudian muncul, kenapa kita begitu membudayakan kebiasaan untuk menganggap bahwa setiap kebijakan adalah sesuatu yang tidak usah dipertanyakan. Kenapa kita terbiasa untuk menyelamatkan diri dari rasa bersalah atau dipersalahkan dengan menganggap bahwa kebijakan dapat saja tidak sesuai dengan aturan. Jika aturan formil saja sudah dilanggar, lalu setinggi apa kita tempatkan kedudukan sebuah kebijakan. Lebih tinggi dari SK, Perda, Kepmen, PP, UU, UUD, Pancasila? Atau bahkan Kitab Suci?

Berhati-hatilah mengambil kebijakan, apalagi bila kebijakan itu berkaitan langsung dengan nasib orang lain. Rajin-rajinlah kita membaca berbagai acuan sebelum mengambil kebijakan, sebab ada banyak rujukan tertulis bahkan tidak tertulis yang bisa kita jadikan bahan masukan untuk setiap kebijakan yang diambil. Kata-kata bijak dari Edward Murrow dalam tulisannya tentang paradigma kepemimpinan, mengungkapkan: Bilamana anda ingin menghimbau, hendaklah anda bisa dipercaya. Bilamana anda ingin dipercaya, hendaklan anda terampil. Bilamana anda ingin terampil, hendaklah anda mampu bekerja benar.

Case Study : Kisah Negeri Peri

Syahdan di negeri para peri, sedang diadakan seleksi pengangkatan peri pekerja berseragam keki, maka sang pemimpin negeri peri membuat sebuah kebijakan yang tertuang dalam keputusan resmi tentang syarat-syarat peri yang berhak ikut seleksi,. Salah satu isi aturan itu adalah peri yang bersekolah di sekolah yang dibangun oleh peri intelektual dari negeri seberang walaupun ijazahnya telah dia kantungi, tidak berhakl ikut seleksi, atau dalam bahasa gaulnya ‘peri lulusan kelas jauh tidak berhak ikut seleksi’. Tetapi apa lacurnya, setelah serangkaian seleksi dan audisi berupa tes administrasi, tes tulis dan tes nyanyi, semua geger karena aturan itu dilanggar tanpa tendeng aling-aling, hasil seleksi dan audisi menjungkirbalikkan sebagian besar prediksi dan poling sms, karena diantara nama-nama yang diumumkan, sebagai peri yang berhak mengenakan seragam keki, terdapat mereka yang menggunakan ijazah kelas jauh. Ketika sebagian kecil peri yang merasa bahwa ini patut dipertanyakan akhirnya memutuskan untuk mengajukan mosi hampir tidak percaya, maka jawaban yang sulit untuk dibantah mesti mereka terima, aturan memang mencantumkan seperti itu, tetapi apa yang diumumkan panitia adalah kebijakan yang kemudian dituangkan dalam bentuk keputusan oleh para pejabat yang berwenang.. Tapi yang harus menjadi catatan adalah sesungguhnya sebuah kebijakan yang terbukti melanggar aturan atau menjungkirbalikkan makna sebuah aturan tidak bisa disebut sebagai kebijakan, hal itu lebih layak di sebut kepentingan.

Di akhir tulisan, saya hanya ingin memberikan nasihat kepada diri sendiri: Hasyim, jika apa yang menjadi maktub jalan hidup memberikanmu kesempatan menjadi seorang pejabat, maka hati-hatilah mengambil sebuah kebijakan, karena boleh jadi apa yang kamu sebut sebagai sebuah kebijakan, pada kenyataannya tidak lebih hanya sebuah kepentingan.*)

Tentang A Hasyim Asy ari

pegawai negeri sipil rendahan di Pemerintah Kabupaten Bima - NTB - Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Jurnal dan Artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke KEBIJAKAN ATAU KEPENTINGAN?

  1. Mr WordPress berkata:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s